Jumat, 06 Maret 2015

Perihal Cinta dan Tanggung Jawab




Bila kamu sudah menyatakan cintamu, dan menginginkan seseorang untuk dimiliki, itu sama artinya dengan
sudah siap untuk bertanggung jawab dengan perasaan cinta yang kamu punya untuk orang tersebut. Karena perkara berkata cinta bukanlah sekedar ungkapan 'I love you', melainkan disana akan ada banyak hal yang perlu untuk dipikul, dihadapi, dan dilakukan.

Maka sebelum mengatakan cinta, pikirkanlah bahwa yang mendengar akan merasa diberi sebuah harapan. Hmm.. bukan hanya sebuah, tapi banyak harapan. Harapan untuk dijaga hati dan tubuhnya, harapan untuk tidak disakiti atau diabaikan, harapan agar perasaannya tidak dipermainkan, harapan untuk bisa dipercaya.
Sebelum menyatakan keinginan untuk memiliki, pikirkanlah bahwa yang mendengar adalah anak dari orang tua yang susah payah merawat dan membesarkannya hingga semenarik ini untuk kau inginkan. Sudah siapkah mencintai orang yang begitu tidak ingin terlukai oleh keluarganya? Karena dia pasti begitu berharga. Jika tidak, mana mungkin kau sangat berharap ia bisa dimiliki olehmu.

Tunggu, ini bukan hanya menyangkut orang yang menyatakan, melainkan menyangkut orang yang menerimanya pula.
Bila kamu menerima cintanya, itu artinya kamu sudah siap untuk melakukan tanggung jawab yang sama pula yang ada pada dirinya. Bukankah banyak dan besar tanggung jawabnya dalam mencintai ?
Tanggung jawab untuk bersabar menghadapi dan menunggu,
tanggung jawab untuk menerima kekurangan,
tanggung jawab untuk mencegah airmatanya menetes karena terluka,
tanggung jawab untuk pedulikan apapun yang berkaitan dengannya.

Ya memang, kadang kita tidak mengerti mengapa cinta harus diuji bertalu-talu hingga kadang membuat diri sendiri ragu untuk tetap meneruskan. Menyadari ketersiksaan diri menahan amarah, ego, dan sakit yang mencengkram dada demi tanggung jawab dalam mencintainya.
Rasanya seperti ingin mencari jurang lalu menepikan diri disudutnya, bersiap mengambil langkah untuk menjatuhkan diri kedalamnya, ketimbang untuk tetap berada diarah yang sama dengan pasangan kita yang mungkin juga kadang
merasakan penat yang sama.

Namun, ingatkah bahwa apa yang mudah didapatkan hukumnya akan mudah dilepaskan?
Apa yang mudah dijalani akan mudah diakhiri?
Apapun yang nampak dipelupuk mata atau apapun yang dirasakan sesaat kadang itu bukanlah hal yang sebenarnya. Semua sekedar goyahan keyakinan akan pilihan dan intrik hidup untuk menguji diri.
Teruskanlah jika kamu merasa harus diteruskan, berundurlah langkahmu jika kau meragu, berhati-hatilah jika ingin selamat menuju awal yang baru dari sekian lama tanggungan hatinya dan hatimu. Sebab resiko bukanlah sesuatu yang dapat dihapuskan, ia hanya dapat dikawal.

Kita lah yang bersuka rela menanggung jawab-i semua liku perjalanan. Bertolak unsur, dan memberi sedikit ruang untuk mengalah bukan berarti lemah dalam melangkah. Ini bukan soal siapa yang terkuat atau siapa yang terhenti langkahnya.
Jika mengibaratkan perang, kita berdualah yang bertempur dengan kepala batu sebagai senjata andalan.
Padahal kemenangan seutuhnya adalah milik berdua bila mampu mengutuhkan jalinan, untuk tidak lupa tanggung jawab saling menjaga.

Betapa manisnya suatu hubungan, bila masing-masing mampu mengerti akan tanggung jawab akan cinta itu sendiri.
Indah, bila dilalui dengan bersama-sama menggenggam tangan yang erat tanpa ada sesal untuk jalan yang tak selalu lurus.

Selasa, 13 Januari 2015

Jarak

Mendengar judulnya saja pasti dikepalamu timbul berbagai pikiran-pikiran negatif, pola pesimistis yang menyalahkan dan berbau amarah akan hal ini. Padahal aku tidak mengetik jenis jarak yang seperti apa, jauh atau dekat, pokoknya kalo sudah mendengar dan membaca istilah 'jarak' yang ada diotakmu itu jauh, susah, ribet, gak enak, payah. Apalagi ? Benarkah dugaanku tentang hal ini ?

Jika iya benar, apakah yang membuatmu jadi merasa demikian ? Apa kalian juga mengalami keterpurukan akibat dikalahkan olehnya ? Apakah kalian pernah rasakan kepedihan karena gagal membuat jarak yang jauh itu menjadi tiada artinya ?

Benar lagi ya, asumsi-asumsiku mengenai judul ketikanku ini?

Hahaha, sepertinya aku paham sekali, pikirmu. Ya iya, jarak bukan hal asing dalam hidupku, terutama menyangkut masalah percintaan. Tak perlu kuberitau berapa kali aku menjalin hubungan jarak jauh, tak penting untuk kujelaskan bagaimana rasanya berkali-kali di-jatuhcinta-kan sama lawan jenis yang berjauhan fisiknya dariku.


"Aku benci jarak!!",

Kalimat ini yang sering terlontar ketika aku harus tersakiti olehnya. Oh bukan, bukan jarak yang menyakitiku, bukan. Namun seringkali aku menyalahkannya. Menyudutkan keadaan yang berjauhan yang membuat aku dan pasanganku harus terpisah kota, menyeberangi pulau, dan menempuh beribu kilometer hanya demi bisa menghancurkan jarak itu.
Padahal bukan jarak yang salah dalam hal ini. Dia sudah hadir lebih dulu sebelum rasa itu datang. Dia adalah satu-satunya dinamika yang harus ditelan bulat-bulat hanya untuk membuat cinta menjadi nyata.
Aku juga tidak menyalahkan cinta.
Dia hadir tanpa undangan ataupun perencanaan. Dia adalah satu-satunya alasan yang tepat mengapa harus menjalani keadaan dimana selalu ada kegusaran, kecemasan, kebingungan, ribuan tanya, saat menjalin kasih dengan insan diseberang sana.

Aku tak ingin salahkan siapa-siapa atas lukaku selama ini. Aku tidak pernah kalah oleh jarak. Cintaku selalu kuat dari apapun. Jarak bagiku adalah jalan pembuktian, bahwa ketidakhadiran seseorang disisi bukan alasan untuk tidak jatuh cinta. Aku juga tak ingin menyudutkan lelaki-lelaki yang seringkali aku perjuangkan, namun pada akhirnya meninggalkan. Setidaknya, mereka sudah pernah mencoba, itu cukup untuk dihargai, meski aku tak pernah tau pasti apakah mereka mencoba bergumul dengan jarak karena memang memiliki rasa dan asa yang serupa, atau hanya sebuah penasaran, atau sebuah candaan untuknya.


Buatku tiada yang salah dalam perkara jarak ataupun soal jatuh cinta, buatku disini hanya ada yang kurang, sehingga hasilnyapun tidak sesuai harap bahkan menghancurkan sehancur-hancurnya serpihan, yakni kata "saling". Saling bertahan, saling memiliki cinta yang kuat, saling menguatkan, saling mengingatkan, saling tak ingin berpisah. 1 kata ini, seringkali terabaikan, padahal tanpanya, perjuanganmu tiada arti, membuatmu tiada berarti, dan jarak makin membuatmu mati...

Minggu, 11 Januari 2015

Kata Mereka, Katamu, dan Kataku.

Hmmm.. Mengenai dia, dia lelaki yang bisa membuatku tersenyum lebar bahkan kalo bibirku sepanjang Joker, senyumanku akan selebar itu, tapi sekaligus membuatku kesal seperti naga yang mendengus marah karena terbangun dari tidurnya didalam gua. Perumpamaan-perumpamaan yang berlebihan memang, karena yang kurasakan saat ini semuanya serba diluar batas kewajaran. Ah bukan, ini wajar, wajar aku jatuh cinta padanya yang begitu pandai memasuki celah hatiku yang sedang rapuh, Mungkin ini namanya perasaan cinta yang sedang meledak-ledak.

Entah apa yang membuatku demikian. Aku berusaha mencari tau jawabannya, berbeda dengan dirinya yang sama sekali tak ingin mengetahui alasannya mengapa begitu mencintaiku pula karena baginya kalo dia temukan jawaban, ketika jawaban itu ada, ia bisa saja berhenti mencintaiku bila alasan itu sudah hilang. Lalu kuputuskan untuk tidak penasaran lagi terhadap rasa ini, aku lebih memilih untuk menikmatinya, bersama.

Akan tetapi, selalu ada saja pihak-pihak yang mencoba mengusik keasikanku ini. Baik itu para mahluk usil yang tidak suka melihat kebahagiaan orang lain, atau mahluk yang memang menginginkan posisinya dia digantikan, dan sebaliknya.
"Kamu sama aku aja, aku bisa kasih apa yang dia tidak bisa berikan",
"Kamu kenapa mau sik sama dia? mending sama aku, masa depan lebih jelas",
"Dia kan sering bikin kamu kesel, ngapain dipertahanin?"
"Apa yang diharepin dari cowok model begitu?"
"Yakin kamu mau nunggu dia?"

Hahaha mereka bertanya tapi tersirat nada menjatuhkan didalamnya seolah aku wanita terbodoh dimata mereka. Mereka bertanya bukan karena penasaran alasanku mencintainya seperti halnya aku sebelumnya, mereka bertanya tapi inginkan aku memikirkan bahwa ada yang lebih dari lelakiku. Padahal, semakin mereka menyudutkan, mereka yang makin terlihat tidak ada pesonanya sama sekali dimataku. Makin mereka meninggikan diri untuk dipilih, makin aku tak menginginkan mereka dihidupku.

Aku dan dia sama-sama menyadari kekurangan masing-masing seperti apa. Kondisinya yang masih belum mampu memberikan sejuta materi atau sebuah kehadiran yang bisa sekejap saja aku dapatkan bila aku membutuhkan rengkuhan tubuhnya untuk menenangkanku.

Iya, dia memang menyebalkan, dengan bully-annya yang begitu tajam tepat sasaran namun aku mencintai caranya yang mengolok-olok kekurangan fisikku. Dia tunjukkan perhatiannya dengan cara seperti itu.
Dia egois, dengan seringkali memaksakan diri hanya untuk mendengarkan ocehanku dari telepon genggamnya padahal matanya sedang tidak bersahabat. Alhasil, saat aku asik berceloteh dia terlelap sesekali diseberang sana. Namun aku mencintai caranya merindukanku seperti ini.
Dia lalai, dengan seringkali mengabaikan perkataanku yang tidak ingin hal buruk terjadi padanya atau kadang dia tidak sadar sering mendiamkan apa yang aku sebutkan diselipan teks atau percakapan kami. Namun aku mencintai caranya merasa bersalah setelah menyadari hal ini.
Dia sering meninggalkanku untuk menakhlukkan puncak gunung manapun, menemui lebatnya hutan, atau melenyap bersama alam-alam yang dia jelajahi. Namun tiada sedikitpun aku meragukannya atau mengiyakan omongan-omongan mereka, karena aku tau dia kesana hanya untuk kepuasan diri dan persinggahan, sedangkan aku bukan hal yang demikian.
Dia pergi untuk kembali padaku, rumahnya, dimana ia melepaskan peluh rindu kepada tuannya yaitu aku, merebahkan lelah dengan nyanyian malamku jelang lelapnya, menceritakan segala kesempatan dimana maut seakan mendekat disaat-saat mencekamnya selama menikmati tanah dan udaranya dipetualangannya. Aku sedikit susah menarik nafas saat mendengarnya, tapi kenyataan bahwa dia selalu baik-baik saja membuat rongga dadaku kembali berlega diri.

Aku sudah tau keburukannya, sudah tau kekurangannya, sudah tau resiko-resikonya menjalani ini semua bersamanya. Seharusnya mereka tidak perlu menghabiskan waktu hanya untuk mengatakan hal-hal yang sudah aku ketahui. Harusnya sik, mereka lebih memanfaatkan waktu dengan memperbaiki diri.

Aku juga sudah tau dia seringkali minder, menyatakan dengan berani segala apa kelemahannya. Dan yang harus dia tau sekarang, semakin dia merasa tidak sempurna, aku semakin ingin menyempurnakannya.
Semakin dia tegaskan padaku bahwa ada banyak yang lebih dari dirinya, semakin tidak aku pedulikan mereka dan aku makin tertuju padanya.
Semakin dia menampakkan sisi buruknya, aku semakin ingin mencintainya dengan segala kekurangannya.

Ini lebih dari cinta, aku rasa, ini fase terbaik dari kesembuhan luka. Maha anugerah terindah dari segala lara yang pernah mendera. Sekarang waktunya aku memberitaukan pada berapa pasang mata yang rela menyempatkan untuk membaca, mungkin termasuk mereka yang aku bahas selain dirinya disini; aku mencintainya, apapun yang terjadi. Aku mencintainya, dari jarak 766km/476mil. Tak apa menurutmu aku naif, aku hanya berpegang pada apa yang aku yakini saat ini. Bila keyakinanku salah, itu bukan urusanmu.

Tentang Kecewa

Kecewa ? kenalin, itu teman akrabku. Aku sudah berkali-kali merasakannya, tidak terhitung. Harusnya sik udah kebal, tapi meskipun sudah sering, tetap saja waktu ngerasainnya, aku sakit. Seolah gong yang diam dipukul berkali-kali, tiada jera aku hadapinya. Sepertinya si Kecewa memang ingin jadi teman setiaku dibanding jadi temannya si harap. Kenapa demikian?

Kata orang, kecewa itu timbul karena berharap, kemudian harapan itu tidak sesuai kenyataannya. Makin besar harapan, makin dalam kecewanya. Dimana ada harap, disitu ada kecewa.
Iya memang benar apa yang dikatakan orang-orang, akupun merasakannya. Akan tetapi, ada hal lain yang aku rasakan tentang ini ; meskipun aku tidak berharap, si kecewa masih saja nongol. Kayak parasit, dia masih saja menempel lekat disekujurku, seperti betah menggerogoti disetiap celah-celah hatiku.

"Ah masa sik, gak berharap aja bisa kecewa? rada mustahil deh kayaknya!", itu komentar yang kurang lebih sama terlontar dari mulut-mulut orang sekitarku.
Lah, lalu apa yang aku rasain ini namanya jika bukan sebuah kekecewaan? Perasaan dimana aku terluka, padahal aku tidak berharap apapun padanya. Aku sudah tau akan seperti ini, akupun sudah sengaja tak ingin memikirkan apapun tentangnya yang sewaktu-waktu menimbulkan setitik asa. Sepertinya, usaha pencegahan itu semuanya gagal. Tetap saja aku bersedih, aku terluka, aku sakit.

Aku sudah pernah terlalu berharap akan sesuatu, akan banyak hal. Sudah pernah menggantungkan harapku itu setinggi langit pada seseorang. Namun saat harap itu terjawab dengan hal yang jauh dari angan, saat dia jatuh terhempas kencang begitu saja ke tanah, saat itu pula aku melihat dan menyadari, bahwa semua itu adalah hal yang seharusnya tidak aku lakukan. Aku lupa kalo aku manusia, dan mereka juga manusia biasa. Aku sempat khilaf untuk lebih mempercayai sesamaku dibanding Penciptaku, Maha Penentu Semuanya. Aku telah salah memilih untuk mengimankan diri pada mereka-mereka yang belum tentu bisa menghargai segala harap dan yakinku.

Sejak saat itu pula aku putuskan untuk berhenti berharap. Tapi apa yang terjadi? Kecewa itu masih dan masih saja hadir! ya Tuhan, aku benci bila harus mengakui bahwa aku merasakan itu lagi. Aku sudah sangat jauh dari batas lelahku, tapi aku enggan berhenti untuk merindukan seseorang untuk diandalkan menjaga semuanya dariku, meskipun seharusnya aku hanya mengandalkan diriku sendiri dan tuhanku.

Sebentar..
Aku tersentak.

Saat kutulis semua tentang kecewaku ini, aku menyadari, yang ku kecewakan adalah ;
diriku sendiri..

Sabtu, 20 Desember 2014

I Love My SuperBoy




Jam 3.30, pelajaranpun selesai. Sebagian besar murid mungkin pulang, tapi tidak denganku dan siswi-siswi centil yang bertujuan sama denganku, menyaksikan Satria berlatih maraton. Namun lagi-lagi aku selalu kalah cepat sama yang lain. Pasti aku selalu dapet barisan paling belakang dikerumunan mereka dilapangan.
“Hahaha Nia, kamu ketinggalan lagi ya..” Seru Icha, sahabat karibku disekolah dari kejauhan. Sayangnya doski suka banget ngejekin aku.
“Ah Ichaaa udah jangan rese deh. Sebal!,” Kutekuk mukaku sambil berdiri dibarisan belakang. Aku memang terkenal dengan julukan ‘slow girl’ di sekolah, bahkan dirumah. Eh, dimana aja deh kayaknya! Melakukan apapun serba lamban, aku yang duluan keluar kelas, tapi aku yang terakhir sampe ke lapangan.
Iya, Kurnia Dwiyanti itu lamban, nggak seperti anak-anak yang lain. Sejak kecil melakukan apapun selalu yang terakhir diantara yang lain. Baik itu lari, makan, mandi. Semua selalu meneriakkan kata,”Niaaaa buruan...” atau “Niaaaa cepetaaann...” dan “Niaaaa cepet dikit kenapa sih?!” Bosen! Tiap hari adaaa aja yang gak pernah sabar nungguin atau nerima kekurangan aku satu ini.
Meskipun begitu, aku gak pernah nyerah buat yang namanya dapetin Satria, Superboy dambaanku. Atlet lari yang begitu dikagumi gadis-gadis disekolah. Wajar aja, udah cakep, larinya cepet, pinter, cool lagi. Siapa yang gak mau coba? Apalagi cewek seumuran aku yang masih kelas 2 SMA. Bener-bener idaman cowok kayak Satria. Aku suka matanya yang tertuju langsung pada garis finish. Aku suka bayangannya yang begitu cepat melintasi lapangan. Dia seperti angin. Satria Pratama. Dia cinta pertamaku. Cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Tiba-tiba..
“EH EHH KAMUUU YANG KUNCIR KUDAAAA... AWASSSSS BOLAAAAA !!!”
Kudengar teriakan itu dari arah lapangan bola kasti dibelakang, dan saat kutoleh kebelakang, baru kusadari ada sebuah bola kecil yang dalam hitungan detik akan segera tertuju kearah wajahku.
“Aduh bagaimana ini? Aku lari juga percuma. Aku diem juga kena” Aku ngomong sendiri. Pasrah. Dan..
“BLASHHHHH...”
“BODOHHHHH HATI-HATI DONG JANGAN ASAL MUKUL BOLA !”
Kukenal suara itu. Satria ? Beneran Satria!  Ternyata dia mendengar teriakan orang tadi dan menangkap bola yang hampir menyentuh wajahku. Unbelieveble ! Gerakannya persis seperti cahaya kilat. Kesigapannya menghadang bola benar-benar cepat dan memukau. Kalo tahu kayak gini, aku mau setiap hari hampir kena bola asalkan ditolong sama Satria.





“Kamu juga hati-hati lah” Ujarnya padaku. Dia sempat melihatku beberapa detik, lalu berlalu meninggalkanku yang masih dalam posisi tangan menutup wajah. Perasaan campur aduk. Deg-degan, senang, semuanyaaa. God, thanks ya buat kejadian hari ini. Hihi.
***
Sabtu pagi, jam 08.15. Aku terlambat gara-gara gak bisa tidur mikirin kejadian kemarin. Untung sekolah cuma 10 menitan jalan kaki dari rumah.
“Tiiitt... tiiiiiitttt....” suara klakson motor memanggil. Sosok cowok keren membawa Ninja merah berhenti dan membuka helmnya dan ternyata dia Satria.
“Kamu yang kemarin dilapangan kan yah? Ayok sini ikut aku. Aku juga telat nih. Hayo buruu..”
Lagi-lagi gak bisa dipercaya. Ya Tuhan mukjizat apa lagi ini? Pagi-pagi udah dikirimin malaikat ganteng buat ngeboncengin aku. Sesampainya diparkiran aku segera mengucapkan terimakasih dan berlari menuju kelas.
“Hei tunggu, nama kamu siapa?” Satria berhasil menyusulku hanya dengan berjalan cepat, padahal aku lari tunggang langgang.
“Kurnia.. panggil aja Nia..”
“Nia aku suka kamu sejak pertama ngelihat kamu kemarin, kamu mau kan jadi pacar Satria?”
HAAAHHHH ??!!!!!Hahahahahahaha aduh aku mendadak pusing. Antara girang, gak percaya, ngos-ngosan, semuanya gabung. Satria sosok yang aku suka sejak kelas 1 ini malah nembak aku dalam keadaan tergesa-gesa seperti ini? Tuhan terlalu baik ya sama aku.
“Mau yah Nia, atau kamu gak suka jadi pacar Satria? jawab dong kita udah telat ini”
“Bu..bukan...aku suka kok. Suka. Suka banget sama kamu, ta.. tapi kan aneh”
“Aneh apanya? Aku serius. Jadi kita pacaran yah!”
“A..a..a...” aku gabisa berkata-kata. Terlalu terkejut sama semua ini.
“Mau bilang aku mau kan? Oke mulai sekarang Nia pacarku! Udah ya aku masuk kelas dulu dadah pacar!” Teriaknya meninggalkanku yang masih bengong. Aku harus cerita sama Icha. Dia harus tahu apa yang aku alamin ini.

“HAHAHAHA jadi Satria yang serba cepat, nembak Nia yang serba lamban? HAHAHA lucu lucu !!” Icha kembali menertawakanku saat kuceritakan kejadian kemarin pagi.
“Pasti kamu bahagia banget kan akhirnya cintamu gak bertepuk sebelah tangan lagi?
“Iya, masih sulit aku percaya, orang yang hampir 2 tahun aku sukai, tiba-tiba aja nembak kayak gini. Aaaaaa aku senangggg Ichaaa” kupeluk sahabatku yang nyebelin ini.









“SAYAAANGGG...” Satria memanggilku memasuki kantin. Semua mata tertuju padanya, lalu menoleh kearahku. Mendadak seisi kantin makin bising, heboh dengan teriakan Satria tadi. Cibiran-cibiran pedas terdengar begitu jelas ditelingaku. Ah masa bodoh, yang penting semua udah tahu, kalo Satria emang punya aku.
“Abis ini pulang bareng yah Nia sayang”
Aku hanya mengangguk malu. Ini kencan pertama kami sepulang sekolah. Seperti mimpi rasanya bisa nonton dan makan bareng Satria. Hal ini sudah kuidam-idamkan. Meski selama bersamanya aku benar-benar merasakan perbedaan kecepatan yang intens. Makna film yang kami tontonpun aku baru ngeh pas nunggu pesanan makan dihidangin, sedangkan dia cepat tanggap dari selesai film. Sekarang waktu makan bareng, aku masih ngeracik bumbu buat baksonya, eh dia udah selesai makan duluan.
“Kamu serba cepat ya sayang..” Gumamku kagum.
“Gak apa-apa kok, aku kalo makan emang cepet. Soalnya aku tipe cowok gak sabaran, kalo pelan itu rasanya buang-buang waktu. Aku serakah, apa-apa semuanya mau dikerjain, makanya suka cepat, gak bisa diem.”
Aku merasa makin minder mendengar ucapan itu dari mulut Satria. Apa mungkin pacaran denganku buang-buang waktu juga? Lalu kenapa dia mau sama aku?

***
Hari Senin ini, jadwalnya Satria kembali latihan maraton. Dia mengingatkanku untuk selalu melihatnya berlatih, katanya aku ini semangatnya, jadi baik latihan atau perlombaan, aku harus datang.
“YAANGGG LIAT AKUUU...”
Satria berteriak sambil berlari dilintasan dengan maksud memamerkan kecepatannya berlari. Dia begitu keren dengan keringatnya yang mengucur dari sela rambut mengalir turun ke pipinya. Aku masih gak percaya dia sudah menjadi superboy-ku sekarang.
“Heh.. kamu pacarnya Satria kan? Ada yang perlu dibicarain sebentar keruangan saya.” Tiba-tiba pelatih maraton Satria nyamperin dan berkata seperti itu.
“HAH? Aku disuruh berhenti pacaran sama Satria?”
“Sejak dia pacaran sama kamu, kecepatannya berlari jadi kacau, malah makin menurun. Sering bolos latihan, alasan inilah, itulah. Pokoknya demi kebaikan Satria, lebih baik jangan dekati dia lagi dulu.”

Gak bisa kalo kayak gini. Apa hak dia ngelarang aku sama Satria pacaran? Tapi aku egois kalo maksain kehendak. Satria harus bisa mencetak rekor lari maraton tercepat demi prestasinya dan reputasi sekolah. Tuhan, masa secepat ini aku harus berpisah darinya?








“Ah gile aje tuh pak Ibnu. Apa-apaan. Mana bisa seenak jidatnya ngatur-ngatur!” Icha sewot banget waktu aku ceritain semuanya.
“Udah Cha, emang bener kata dia. Aku udah jadi penghalang buat masa depan Satria. Biarlah aku mundur untuk saat ini, jodoh udah diatur Allah..”
“Tapi, Nia..”
“Ini keputusan aku. Tolong hargai Cha.” Aku tersenyum paksa dihadapan Icha, demi menutupi kesedihanku. Dan hari ini juga, aku temui Satria diruang OSIS dan mengutarakan semuanya.
“Apa?? Kenapa cepet banget kamu bicara kayak gini?? Salah aku apa??”
“Kamu gak ada salah, kamu tahu sendiri kan aku orangnya lamban, kalo aku harus selalu menyamai kecepatanmu aku capek, Sat. Maaf..”
Satria memandangku kesal. Wajahnya menunjukkan kekecewaan yang mendalam padaku setelah aku katakan semua itu.
“Sudah kuduga bakal kayak gini. Selalu saja semua orang ngomong yang sama. Katanya mereka pengagumku, tapi memandang aku terlalu hebat. Saat latihan juga begitu, yang lain kecapean dan selalu aku sendirian didepan”
“Satria.. maaf..”
“Hanya kamu yang aku pikir beda dari mereka! AKU PIKIR KAMU AKAN TETAP MENGIKUTIKU SAMPAI KAPANPUN SEBERAPAPUN CAPEKNYA! Tapi aku salah. Benar-benar salah duga...”
Ia pergi dan berlalu dengan menundukkan kepalanya. Astaga, aku baru menyadari betapa bodohnya aku. Dia selalu berlari sendirian, dan aku selalu ditinggal sendirian. Kami sama-sama kesepian, dalam kesendirian yang sama.. Ya Tuhan.. Aku benar-benar salah telah mengucapkan kalimat tadi. Aku menyesal...

***
Kucurahkan penyesalanku sama Icha melalui handphone. Aku menangis sejadi-jadinya. Sakit, aku melakukan ini demi kebaikan Satria, tapi malah kulakukan dengan cara mengecewakannya. Icha hanya menyabarkanku. Menyuruhku untuk berhenti menangis. Dia bilang bahwa semua akan baik-baik saja.
“Oh iya, besok lomba maraton antar SMA, Satria jadi unggulan sekolah kita. Dia bakal ikutan lomba. Kamu harus nonton ya, buktiin kalo kamu masih peduli sama dia”
“Nggak aku gak berani liatin muka depan dia. Dia pasti benci sama aku”
“Kok ngomongnya gitu? Katanya nyesel, katanya sayang, ya kamu harus nonton buat buktiin itu semua, terus minta maaf sama dia”
“Aku pikir-pikir lagi ya”








Iya aku memang memikirkannya. Aku bingung. Aku masih sangat menyayangi dia, tapi apa mungkin Satria mau memaafkanku? Aku juga pengen ngeliat dia bertanding. Saat dia berlari adalah masa-masa terbaik darinya yang selalu aku lihat dari dulu. Aku begitu mengagumi sosoknya yang berlari itu. Berarti aku harus menyaksikannya besok.

Kamis pagi, jam enam tepat, aku sudah berada dilapangan sekolah. Aku sengaja bangun pagi-pagi banget mempersiapkan semuanya. Aku gak mau ‘slow girl’ ini ketinggalan lagi buat nyaksiin ‘superboy’ beraksi dilapangan. Meski aku udah berhasil berada dibarisan paling depan diantara kerumunan siswi-siswi pengagum Satria, tapi hati kecilku masih bercampur rasa malu dan takut ia mengacuhkanku atau pura-pura tidak melihatku.
Tepat pukul tujuh pagi, perlombaan laripun dimulai. Kudengar pengeras suara menyerukan aba-aba untuk para peserta. Kucari-cari sosok Satria disana. Ada! Dia yang paling tinggi, paling gagah, dan paling tampan. Kini aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Ingin kuteriakan kata-kata penyemangat seperti yang lainnya, tapi apa daya aku tak sanggup. Kulihat dirinya diposisi paling depan dari yang lain, seperti biasa. Namun anehnya, mengapa ia seakan berlari menuju arahku? Gak mungkin. Tujuannya pasti menuju garis finish, bukan aku.

“YAAA NOMOR PUNGGUNG 01 ATAS NAMA SATRIA PRATAMA BERHASIL MENCAPAI GARIS FINISH DIURUTAN PERTAMA...!!”
Spontan aku bersorak kegirangan mendengar juri meneriakkan dengan jelas bahwa satria adalah pemenang. Eh tunggu, tapi kok, Satria tetap saja berlari? Loh kok sepertinya berlari kearahku? Mukanya marah, kesal. Aduh benar, dia berlari menghampiriku. Harus gimana ini? Apa dia mau memarahiku lagi? Aku harus segera berlari meninggalkan kerumunan. Niatku meminta maaf tiba-tiba lenyap.
“KURNIAAAAAAAA TUNGGUUU AKUUU !!!”
Makin ketakutan aku mendengar teriakannya. Aku berlari makin kencang, tapi lagi-lagi dengan kecepatan supernya, dan aku yang benar-benar lamban, dia berhasil menggapaiku dan menarik lenganku.
“Kamu mau kemana, Nia?! Dasar Bodoh! Kenapa kamu gak bilang semua gara-gara pak Ibnu?”
Aku kaget. Darimana Satria tahu hal ini? Pasti Icha yang ngasih tahu semua ini ke dia. Lalu pak Ibnu menghampiri kami yang masih sama-sama dalam keadaan tegang.
“Wow Satria kamu tadi hebat sekali mencetak rekor baru!”
“Ini semua karena Nia, pak! Dia bukan penghalang buat aku, justru dialah tujuanku, garis finish-ku! Bapak gak ada hak menghakimi Nia dan mengurus hubunganku!”
“Benar pak, lihat buktinya, Satria memenangkan pertandingan kan?” Tiba-tiba Icha datang sambil menyahuti perkataan Satria.






“Kalian ini...Hah..!! terserah..!!” Pak Ibnu pergi dengan muka datarnya. Dia seakan tak menerima semuanya.
“Nia, aku sayang sama kamu. Percaya, dengan kita bersama, nggak ada lagi kata kesepian, nggak ada lagi kata sendiri...”
Kupeluk tubuh Satria yang dipenuhi keringat itu. Maafin aku sayang, aku janji gak akan pernah ninggalin kamu dalam sepi, gak akan lelah mengejarmu dan menemanimu, meski dengan keterbatasan ini. I love you, my-superboy...



***







The Miracle Of Rain





Rintik hujan jatuh dibawah langit mendung kota Bogor.
          Aku mendengus kesal dan segera menutup semua jendela kamarku. Kunyalakan AC untuk menyegarkan udara disekitar, mematikan TV, lampu dan semua alat elektronik lainnya. Aku berbaring diam, membelakangi jendela yang kututup tadi.
          Diluar, hujan turun semakin deras. Kini suasana yang tadinya begitu hening, mendadak berisik lantaran sambaran petir yang seakan berlomba-lomba mendatangi rumahku, dan langitpun semakin menghitam.
          Bukan hanya ventilasi kamar yang kututup, tapi kedua telingakupun ikut kusumpal dengan jari-jariku. Kupasang kerut didahiku sambil menutup mata, seperti nenek-nenek yang sudah menua. Aku merasa semakin menggila sendiri dikamar bercat krem ini. Kutarik selimutku hingga menutup semua mukaku, lalu bersembunyi dibaliknya.
***
Sudah lama aku membenci hujan, sangat tidak menyukainya. Bagiku hujan itu malapetaka, kesialan, membuatku merasa makin sendirian. Entah mengapa aku bisa berpikiran seperti ini.
Ican, teman satu kampusku dari jurusan psikologi mengatakan, mungkin ini disebut phobia. Aku phobia hujan. Phobia ini timbul akibat ketakutan dari trauma masa kecil atau masa laluku. Entah apapun maksudnya itu, aku bahkan sudah lupa sama sekali akan masa kecilku, itupun kalau memang ada suatu trauma didalamnya. Soalnya yang aku ingat, saat kecil adalah masa bahagia dihidupku tanpa rasa cemas ataupun takut.







         

Mungkin benar apa yang Ican katakan, terutama soal teori Freud, bahwa manusia seperti kita hanya bisa mengingat kejadian-kejadian saat berusia tiga tahun, dan manusia lebih sering memilih untuk melupakan kejadian yang tidak menyenangkan dari memori masa lalu kita. Entahlah.
Aku bersyukur deh gak ngambil jurusan kuliah yang sama seperti Ican, jadi aku gak perlu memikirkan hal-hal yang seperti itu buat dipelajari detail. Teorilah, Freudlah, phobialah, atau apalah itu. Pokoknya yang aku tahu, aku membenci yang namanya hujan, titik.

***

          Hidupku sekarang bisa dibilang suatu kebetulan yang tragis ya. Eh, kebetulan gak sih? kata orang sih, sudah rencana Tuhan.
Seorang Melani, yang begitu membenci hujan, malah tinggal dikota yang dijuluki Kota Hujan, Bogor! Aku cuma bisa nahan kekesalan saat setiap teman-teman atau keluargaku meledek. Malah aku disuruh tinggal digurun pasir, sarap!
          Nih kebetulan miris lainnya, aku malah masuk universitas wilayah Depok, tetangganya si Bogor, yang sering disebut Kota Petir karena jumlah petir terbanyak sepanjang tahun diseluruh dunia. Baca lagi deh, seluruh dunia loh! Bayangin, sang hujan dan petir yang diibaratkan saudaraan, gak bisa jauh, dimana ada hujan disitu ada si petir menari-nari. Ini benar-benar parah buat aku. God, nasibku gini banget ya.
          Dari kebetulan-kebetulan ini, Ican memberiku kembali sebuah teori psikologinya. Katanya justru dengan adanya aku disini, bisa membantu aku untuk menghilangkan kebencianku terhadap hujan dan saudara-saudaranya itu. Hal ini disebut dengan istilah flooding self, dimana kita mengatasi phobia akan sesuatu dengan berkutat pada sesuatu yang kita benci sebanyak-banyaknya dan selama mungkin sampai berada dititik batas.
Kalau aku tidak suka hujan, maka aku harus berhujan-ria. Kalau aku tidak suka petir, aku harus mendengar petir sampai gendang telingaku pecah!






Hahaha, teori yang bagiku sangat-sangat aneh dan aku rasa Ican mulai gila dengan menyuruhku melakukan hal-hal itu.

***

          Aku pejamkan mataku, namun masih dapat kulihat seberkas cahaya-cahaya putih yang terkadang muncul tiba-tiba memantul disudut-sudut kamar. Kilatan itu beriringan dengan suara "cetarrr...!!"
Sial. Situasi seperti ini begitu menyiksa. Aku tindih mataku dengan bantal guling kesayangan, karena bagiku memejamkan mata saja tidak cukup. Kuharap ada yang bisa menolongku dari semua ini.
          "Kamu gak lagi tidur kan, Mel ?," tiba-tiba ada suara yang gak asing.
          Nahkan bener, si Ican udah duduk dikursi tepat disamping jendela yang kututup tadi.
          "Udah tahu, pake nanya!," sahutku ketus karena suasana ini.
          "Ya iyalah tahu, gak mungkin kamu bisa tidur dengan situasi yang ‘gak banget’ buat kamu ini," Ican menjawabku dengan nada menyindir.
          "Ya udah, gak usah sewot. Aku males banget deh ngapa-ngapain kalo lagi kayak gini."
          "Kamu ini, segitu bencinya yah sama si hujan, dia kan gak ada salah sama kamu.. kasian si hujan.."
          Entah mau meledek atau menghibur, aku sedikit tersenyum mendengar celetukan si Ican barusan.
          "Kamu benar-benar harus diterapi, Mel..," lanjutnya sambil mencubit hidungku.
          Jangan heran dengan tingkah Ican, kami sudah bersahabat sejak kecil. Jadi mama santai aja kalo Ican main kerumahku. Malah menyuruh Ican buat masuk kekamar.








Agak gak lazim sih memang, tapi bisa kalian banyangin kan, seakrab apa hubungan aku, keluargaku, dengan Ican dan keluarganya? Aku rasa gak akan ada hal-hal negatif yang terjadi diantara kami meski berlainan jenis.

***

          Minggu sore, langit Bogor kembali gelap, seolah sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengeluarkan serbuan air hujannya.
          Rencana nonton Taken 2 bersama Ican sepertinya harus aku batalkan. Kesal sih, tapi gak mungkin buat seorang Melani Ayuditya untuk pergi dengan situasi yang paling dibenci.
          Kuputuskan untuk menghubungi Ican, menunda semuanya besok, itupun kalau filmnya masih ada.
          "Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi atau berada diluar jangkauan...," Malah suara ini yang kudengar berkali-kali saat mencoba menelepon Ican. Sms semuanya pending.
BBM pun gak ada yang terkirim. Kan gak enak kalau Ican sudah kesini hujan-hujanan tapi ujungnya batal pergi.
          Benar kan, hujanpun turun dengan derasnya beserta pasukan petirnya susul-menyusul. Gak tahu kenapa malah jadinya bete sendiri gak jadi pergi sama sahabatku satu-satunya ini.
          Tanpa diduga, HP ku berdering. Panggilan itu dari nomor yang daritadi gak bisa dihubungi. My-Ican. Begitulah namanya dikontak HP dan BBMku.
          "Ha..ha..halo...," suara lemah dan parau itu terdengar dari seberang sana, membuatku lupa untuk memarahi sang empunya nomor.
          "Ican?," Aku tak bisa sembunyikan kekhawatiranku saat mendengar suaranya yang tak biasa itu, "Kamu kenapa? Dimana sekarang? Kok suaranya gitu?,"














          "Tolong, Mel... Tolongin a..aku...,"
          Detak jantungku mendadak berdegup kencang, aku panik, "Aduh kamu kenapa can? Apaan sih tiba-tiba gini, gak lucu! Ada apa ini?"
          "Aku persis didepan komplek ka..kamu... Tolong, Mel... Aku ditabrak orang... Sa..sakiiitt...." suara Ican makin melemah dan merintih.
          "Hah? Ican yang bener ih kamu! Can...," suaraku makin melengking, kepanikan luar biasa aku rasakan, ditambah sambungan telepon terputus begitu saja.
          Dengan segera aku keluar kamar, turun kebawah dan membuka pintu rumahku. Rasa panik ini makin bertambah saat kulihat hujan dengan garangnya jatuh ke bumi.
"Aduh mampus deh!," Kutepuk dahiku sendiri. "Mama...mah... payung mana sih ma? Mamaaa..."
Seorang wanita dengan rambut disanggul tinggi muncul dengan berlari-lari kecil, "Kenapa nak? Seumur-umur gak pernah kamu mencari payung?," tanya mamaku keheranan.
Aku tak menjawab apa yang mama tanyakan, aku merasa bukan waktu yang tepat buat menjelaskan semuanya. Diotakku saat ini cuma Ican dan Ican. Tanpa pikir panjang, untuk pertama kalinya, aku berlari kencang menerobos hujan, tanpa mau menunggu mama mengambilkan payung untukku.

***

          Aku merinding ketika tanpa kusadari butiran-butiran air hujan itu mulai menerobos keseluruh pakaianku. Pertama kali aku rasakan dingin yang menusuk, membasahi semua tubuh. Namun tak kuhiraukan semuanya, aku teringat rintihan Ican ditelepon tadi, masih terngiang-ngiang suara kesakitannya. Gimana kalau Ican parah? Gimana kalau dia sekarang kesakitan dan belum ada seorangpun yang menolongnya apalagi kondisi hujan seperti ini ? Semua hal buruk merasuki pikiranku, sama seperti hujan yang merembes menembus pakaian keseluruh badan ini.

          "Ayo, Mel... sebentar lagi sampai depan komplek... Terus maju, Mel.. Peduli setan sama hujan!," aku bergumam sendiri, meyakinkan diriku sendiri.






Sesampainya disana, aku melongo. Tak kulihat sosok Ican yang berlumuran darah dan sekarat seperti di film-film, atau mobilnya yang ringsek hancur berantakan. Gak ada!
Jangankan Ican, tak ada seorangpun disana berdiri atau beramai-ramai.
Lagi-lagi aku panik. Apa aku tadi salah dengar ? Apa Ican sudah digotong ambulance? Atau ditolong warga sekitar ? Semua pertanyaan beruntun berputar-putar dikepalaku.
Bodoh! Aku benar-benar seperti orang gila ditengah hujan, aku sekarang kehujanan dan hanya bisa bengong!.
          Secara mengejutkan, sebuah tangan menepuk pelan pundakku. Aku yang berdiri menunduk perlahan memalingkan wajah kebelakangku, dan kutemukan Ican! Dia sehat wal afiat tanpa luka sedikitpun. Benar-benar berbeda dari apa yang daritadi aku bayangkan. Mataku sedikit terbelalak.
          "Mel, maafin aku yah. Mungkin caranya terlalu ekstrim, tapi aku yakin kamu pasti bisa melawan kebencian dan ketakutan kamu terhadap hujan. Buktinya sekarang kamu berada disini Mel...," Ican menjelaskannya sebelum aku sempat meluapkan amarah, "Aku berharap dengan ini, kamu malah menganggap hujan itu memori yang indah buat kamu. Makanya aku sengaja
berbohong seperti ini..."
Aku menangis. Perasaanku campur aduk. Satu sisi aku sedih Ican membohongi aku, tapi disisi lain aku senang, dia benar-benar gak ada kekurangan sesuatu apapun.
          "Menurut Pavlov, ini disebut teori Operant Conditioning, jadi..."
          "STOP ! Jadi kamu ngelakuin ini semua cuma karena kamu mau praktekin teori-teori gila yang kamu pelajari itu? Kamu jadiin aku objek? Gila kamu, Can!,"
Aku menyela pembicaraannya yang belum selesai. Air mataku makin deras mengalahi hujan yang mulai berkurang menjadi rintik-rintik gerimis.
          Tiba-tiba Ican memelukku,
"Nggak, Mel... Aku ngelakuin semua ini, karena aku sayang sama kamu..."
Sebuah kalimat yang dahsyat, meluluhkan segala amarah yang tadi sudah diubun-ubun. Pengakuan yang membuat siapapun yang mendengarnya meleleh, termasuk aku yang selama ini membenci hujan. Apalagi semua itu keluar dari mulut seorang Ican, ia menyatakan itu dengan pandangan yang tulus, menunjukkan betapa ia peduli terhadapku lebih dari seorang sahabat.
          Aku menangis lagi, namun kali ini tangisan bahagia. Kupeluk Ican erat ditengah gerimis. Gak peduli sama teori apapun, sama teori siapapun, yang jelas aku senang, aku sangat menyukai Ican. Dan sepertinya, aku mulai menyukai hujan…

*TAMAT*